Ada 5 perkara yang senantiasa diperhatikan para sahabat Rasulullah Saw. Perhatian mereka terhadap lima perkara tersebut merupakan bukti bagaimana mereka memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya dan mereka menjaga setiap detik dari umur mereka agar tidak sia-sia. Apa saja 5 perkara tersebut?
Lima perkara tersebut (dalam Imam Qurtubi, Bahjatul-Majaalis, jilid III, hlm.140) sebagaimana dinukil oleh Imam Auzai, yaitu :
Lima perkara tersebut (dalam Imam Qurtubi, Bahjatul-Majaalis, jilid III, hlm.140) sebagaimana dinukil oleh Imam Auzai, yaitu :
1. Selalu Bergabung (Berjamaah) dengan Orang-orang Saleh Yang Aktif
Senantiasa iltizam (komitmen) terhadap jamaah islam adalah suatu keharusan pada zaman ini. Di samping hal itu merupakan kebiasaan yang baik guna memanfaatkan waktu. Sebab kewajiban itu dianggap sempurna apabila senantiasa berjamaah. Karenanya jamaah islam diharapkan memiliki bermacam-macam kegiatan bermanfaat, dimana kesemuanya itu akan menjaga pemuda dari sikap menyia-nyiakan waktu, kehilangan kontrol diri, dan kekosongan jiwa yang sangat berbahaya.
Apabila setan mampu menyesatkan satu orang (yang menjauhi jamaah), maka sesungguhnya ia merasa sulit untuk menyesatkan dua orang (yang berkelompok). Ini hanya dua orang, bagaimanakah jika seorang Muslim berkumpul bersama jamaah, yang tentunya dapat membantu mensyiarkan agama dan senantiasa taat dalam beribadah serta melakukan kegiatan yang bermanfaat!
2. Mengikuti (Ittiba') Sunnah Rasulullah SAW
Ibnu Taimiyah Rahimahullah berkata "Sesungguhnya sunnah, sebagaimana diungkapkan oleh Imam Malik, adalah laksana perahu Nabi Nuh As. Barangsiapa yang menumpanginya, selamatlah ia dan barangsiapa yang tertinggal, ia akan tenggelam." (Ibnu Taimiyah, al-fataawa al-kubro, jilid II, hal 374) Yang dimaksud "menumpanginya" yaitu mengisi waktu dengan melaksanakan sunnah-sunnah Rasulullah Saw. Lalu arti "tertinggal" yakni tidak melaksanakan sunnah Rasulullah Saw, dan hidup dalam keadaan kosong dari amal-amal yang berguna.
Karenanya, Abu Bakar berkata "Aku tidak pernah meninggalkan sesuatu yang pernah diamalkan oleh Rasulullah Saw, sebab aku khawatir jika meninggalkan perintah beliau, maka akan menyeleweng (dari kebenaran). " (Al-Qodhi Iyadh, asy-syifaa fi Ta'rifi Huquq al-Musthofa, jilid II, hlm 18)
3. Memakmurkan Masjid
Suka memakmurkan masjid, merupakan salah satu indikasi keimanan yang kuat dimiliki seseorang. Dan memakmurkan masjid dapat dilakukan dengan shalat berjamaah, membaca Al-Quran, i'tikaf, atau menghadiri pengajian/ ceramah agama. Dengan demikian, ia penuhi waktunya dengan berbagai kegiatan positif. Allah SWT berfirman :
إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ ءَامَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَءَاتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ فَعَسَى أُولَئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ
“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari kemudian, serta tetap mendirikan shalat, menunaikan zakat dan tidak takut (kepada siapapun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk” (QS At-Taubah: 18).
Semua sifat ini diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang mengisi waktunya dengan memakmurkan masjid.
4. Tilawah Al-Qur'an
Al-Quran adalah jiwa yang menggerakkan semangat umat, juga sebagai dustur (undang-undang) bagi kita dan umat Islam lainnya. Sebaik-baik kesibukan adalah menyibukkan diri dengan Al-Quran, baik dengan membacanya, menghafal, atau menafsirkannya. Keutamaan Al-Quran sungguh sangat banyak, beberapa diantaranya dijelaskan oleh Allah Swt dalam firmannya:
Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah swt dan mendirikan sholat dan menafkahkan sebagian dari rizki yang Kami anugrahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka adalah orang-oarang yang selalu beruntung. Agar Allah swt menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari anugerah-Nya. Sesungguhnya Allah swt Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS Fathiir 35:29-30)
Dalam kesempatan lain, Rasulullah Saw bersabda:
Bacalah Al-Qur’an karena dia akan datang pada hari Kiamat sebagai juru syafaat bagi pembacanya.” (Riwayat Muslim)
5. Jihad fi sabilillah
Jihad di jalan Allah adalah titik puncak agama Islam. Para sahabat dan salafus saleh berjihad di jalan Allah, dan untuk itu mereka tak takut akan cacian siapapun. Ini menunjukkan kecintaan kaum salaf untuk mengisi waktu mereka dengan berjuang dan memerangi segala bentuk bid'ah dan khurafat.
Apabila sebagian dari kita tidak berkesempatan berjihad melalui pintu perjuangan (berperang) di jalan Allah, masih ada pintu-pintu jihad yang lain bagi kita yang terbuka lebar. Seperti pintu dakwah, jihad dengan pemikiran dan harokah di jalan Allah. Sebab tujuan dakwah dan berperang adlah satu, menyampaikan kebenaran ajaran islam.
Semoga yang singkat ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua dan menjadi hujjah bagi kaum muslimin dalam meningkatkan kualitas iman. Wallahu a'lam.
REFERENCE: Jasiem M. Badr Al-Muthowi' (Efisiensi Waktu Konsep Islam)
No comments:
Post a Comment