Hidup ini tak pernah lepas dari cobaan dan ujian. Bahkan ia merupakan sunatullah dalam kehidupan manusia, yang mau tidak mau akan dialaminya. Terkadang cobaan dan ujian Allah Ta’ala berikan pada manusia, ada yang berupa kenikmatan atau kebaikan, seperti: kesuksesan, kekayaan, kehormatan, kesehatan, dsb. Ada pula ujian dan cobaan tersebut yang diberikan pada manusia berupa keburukan, seperti : kegagalan, kemiskinan, kehinaan, sakit, dsb. Sebagaimana hal tersebut difirmankan oleh Allah Ta’ala,
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya) Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (Al-Anbiya:35)
Ayat di atas menunjukkan bahwa ujian merupakan suatu yang pasti dan akan ditimpakan kepada setiap manusia. Karena itu, kita hendaknya mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Sehingga tidak terbetik sedikitpun di dalam diri kita untuk berburuk sangka kepada Allah Ta’ala akan ujian yang kita alami.Apa yang Allah berikan kepada kita pasti merupakan sesuatu yang terbaik. Allah Ta’ala berfirman,
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (Al-Baqarah:216)
Seorang mukmin tatkala menghadapi ujian atau cobaan hendaknya bersikap sabar dan meyakini, bahwa di balik semua itu terdapat kebaikan dan pahala yang besar dari Allah Ta’ala. Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah seorang hamba tertimpa musibah lalu dia mengucapkan, ‘Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Raji’un lalu berdoa, ‘Ya Allah Berikan aku pahala dalam musibahku ini, dan berilah ganti yang lebih baik darinya’ melainkan Allah benar-benar memberikan pahala dan memberinya ganti yang lebih baik darinya.” (HR Muslim)
Allah Ta’ala dan Rasulullah SAW juga menghibur orang-orang yang mendapatkan musibah, bencana, dan sesuatu yang tidak dia senangi, seperti penyakit, kemiskinan, kegagalan, bahwa semua itu dapat menghapuskan dosa-dosa ynag pernah ia lakukan. Allah Ta’ala berfirman,
Ðan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (Asy-Syura:30)
Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah seorang mukmin tertimpa kelelahan, penyakit, kasusahan, kegundahan, dan tidak pula kesedihan, bahkan sampai duri yang menusuknya, melainkan dengannya Allah akan menghapuskan dosa-dosanya.” (Muttafaq ‘alaih)
Kenyataannya, tidak setiap orang dapat menyikapi musibah atau ujian Allah Ta’ala dengan sabar, mengharap kebaikan atau ganti yang lebih baik, dan ampunan dari Allah Ta’ala. Karena itu tidak sedikit di antara kita yang mengambil “jalan pintas” untuk menghilangkan musibah dan ujian tersebut. Banyak yang mendatangi dukun atau mempercayai benda tertentu. Padahal cara dan jalan ini jelas diharamkan dan mendatangkan murka Allah Ta’ala. Seperti difirmankan dalam surat Al-Maidah:72
“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”
Semoga yang singkat ini dapat bermanfaat dan menjadi hujjah bagi kaum muslimin dalam menghadapi cobaan dan berhati-hati dari kesyirikan yang dewasa ini menjadi hal yang dianggap “wajar” oleh kalangan masyarakat. Semoga Allah Ta’ala memberikan taufiq-Nya kepada seluruh kaum muslimin utuk dapat menjauhi dan meninggalkan kesyirikan dan konsekuensi yang diterima oleh parapelakunya. Wallahu a’lam.
REFERENCE: Buletin Dakwah Madani
No comments:
Post a Comment